
214 likes
callme.not A piece of her.
.
Adalah menjadi mimpi terbesarnya untuk bisa didengar. Didengar sebagai personal yang kritik dan aspirasinya dipertimbangkan, sebab banyak dari mereka yang bersikap seolah sebagian golongan tak berhak untuk berteriak lantang. Ia ingin berdiri kokoh sebagai jembatan. Untuk mengantar kelompok yang tak punya cukup kekuasaan untuk menyebrang.
Introducing, Kwan Dalgi.
Gadis itu kehilangan satu karakter pada penulisan namanya karena petugas administrasi akta kelahiran bersikeras dengan opini yang sebetulnya tak pernah diminta: tidak logis jika seseorang menamai anak perempuannya dengan nama buah-buahan. Konyol. Dulu, ayahnya bekerja sebagai petani perkebunan stroberi di wilayah Hangyeong-myeon. (You guess it right, this is where the 'Ddalgi' name came from). Seringkali Kwan Myeongsoo pulang ke rumah dengan membawa sekantung buah stroberi segar pada masa itu, yang biasanya akan disambut dengan pekik girang dari si anak gadis, dan satu tepukan keras di punggung dari sang Nyonya rumah.
"Berhentilah membawa pulang stroberi-stroberi itu! Mereka yang seharusnya membayarmu, bukan kau yang malah menambah pendapatan mereka!"
Pukulan dan omelan itu tak berarti apa-apa. Senyum dari wajah sang tulang punggung keluarga tak kuasa sirna melihat Dalgi berlari membawa buah merah terang itu untuk dicuci. Mengumpulkan semuanya dalam sebuah mangkuk seukuran setengah bola voli. Lalu merengek kurang dari lima menit kemudian karena jemari mungilnya tak mampu menggapai toples gula di ujung meja.
"Bagaimana bisa aku berhenti?"
Pyo Sooah hanya bisa menghela napas dengan gelengan kepala lembut jika sudah seperti ini. Meski begitu, senyum wanita muda itu turut merekah setelahnya. Kebahagiaan kecil yang datang dari sekantung plastik buah manis-masam.
Tetapi tidak semua momen bisa dipertahankan sejauh apa yang direncanakan. Sepertinya gagasan itu benar adanya. Almanak menunjukkan tahun 2005, fase kehidupan ini dimulai ketika seorang pemuda akhirnya mendapatkan wewenang dan kepemilikan atas lahan perkebunan orang tuanya. Pemikiran segar nan brilian menemukan potensi yang lebih unggul dari sekadar usaha agrikultur. Sektor pariwisata akan jauh lebih menguntungkan. Akhir dari pernyataan itu berujung pada puluhan pekerja kebun yang kehilangan mata pencaharian.
Bengis.
Egois.
Yang merasa hak dan tempatnya dirampas menyuarakan kekecewaan dan tuntutan mereka. Namun, seberapa keras pun berteriak, suara-suara itu terbungkam oleh bisingnya pembangunan.
Sejak momen itu, tak lagi diizinkannya buah stroberi menjadi primadona pada daftar kebahagiaannya.
First step.
"This has been Kwan Dal-Gi reporting from Hangyeongwon Nursing Facility, Hangyeong-myeon, Jeju-do, South Korea." Dengan memegang mikrofon tak kasat mata, Kwan Dalgi mengulas senyum. Aksinya disambut tepuk riuh dari barisan lansia yang duduk rapi di hadapnya, meski ada jeda tiga detik keheningan setelah ucapan si gadis berakhir sebelumnya. Mungkin sebab tak mengerti dengan rentetan kalimat dalam bahasa asing yang dibeberkannya.
"Terima kasih! Terima kasihㅡah, Halmeoni! Tidak, aku tidak berniat untuk menjadi pewarta sungguhan." Senyumnya berubah menjadi sipu, tangan Kwan Dalgi bergerak menyelipkan helai rambutnya ke belakang daun telinga. Merasa bangga mendengar pujian yang dilontarkan, "Aku melakukan ini hanya karena harus tampil untuk ujian praktik nanti. Halmeoni tahu sendiri, kan? Aku sangat kaku jika berhadapan dengan kamera."
Tawa renyah dari belah bibir merah muda itu lolos setelahnya, ketika seorang Kakek berkata bahwa Kwan Dalgi tak perlu khawatir, sebab ia akan selalu terlihat cantik di layar kaca mereka.
"Haruskah aku coba pertimbangkan untuk benar-benar muncul di layar kaca? Bagaimana kalau jadi bintang iklan saja?" Anak perempuan itu malah berkelakar.
Mungkin tak ada salahnya betul-betul dipertimbangkan.
Sebab ia ingin dunia mendengarkan isi kepalanya. Sebab ia punya banyak hal untuk disampaikan kepada beratus juta pasang telinga di luar sana.
Second step.
"Sunbae-nimㅡ" kedua matanya mengerjap. Memelas dengan raut wajah memohon. Sekalipun Dalgi tahu biasanya trik ini tak pernah berhasil, tetap dilakukannya dengan harap mampu meluluhkan hati sang senior.
Yang ditatap balik menatap, hanya saja air wajahnya datar dan tak butuh waktu lama lantas berjalan lalu.
"Oh, ayolah, Sunghan-ssi. Ini akan jadi berita besar. Kau tahu seberapa sulitnya mendapatkan informasi ini." Dalgi mulai bergerak mengejar. Berusaha menyejajarkan langkah dengan si lawan bicara yang bahkan tidak mau repot memperlambat laju geraknya. "Aku bahkan menggunakan uangku sendiri untuk membayar argo taksi selama membuntuti Min Kwanghee. Sebulan penuh! Informan yang kutemui juga tak mudah dihadapi sebelum akhirnya dia mau buka suara. Maka dari ituㅡ"
"Maka dari itu sudah kukatakan berulang kali untuk tidak menyentuh kasus ini."
Langkah keduanya terhenti.
"Mengapa tidak?"
"Karena Direktur berkata demikian."
"Lantas bagaimana dengan para korban dan keluarganya yang dirugikan? Apa kita akan tetap bungkam sekalipun mengetahui fakta?"
"Kita? Siapa yang kau maksud dengan 'kita'?" Manik mata si senior menggertak sang reporter muda. Mematahkan semangatnya. "Laporanmu tidak akan sampai ke studio siar, tak akan pernah ada kata 'kita' pada bahasan ini. Kau sebut pengamatan bias dari hasil membuntuti itu fakta? Fokus dengan lini kerja yang sudah ditentukan dan berhentilah melakukan hal yang tidak-tidak. Kau harus menyelesaikan liputan kegiatan amal Perusahaan Gangyoo dalam tiga hari kedepan."
Gadis malang. Tak pernah menyangka sebelumnya. Bahkan tempat yang dikiranya bisa menjadi wadah untuk melantangkan suara, tetap bisa menjadi bejana kosong yang hanya bisa diisi untuk menguntungkan mereka yang berkuasa.
Third step.
Pada tahap ini, si gadis muda yang telah tumbuh dewasa menyimpulkan satu hal berharga.
Jika teriakan tak cukup untuk menggetarkan seseorang yang memilih tutup telinga, coba kepalkan tinjumu di depan matanya. Hal yang tertangkap retina biasanya lebih sulit untuk diabaikan. Maka, dicobanya menyampaikan pesan melalui goret tulisan. Suara akan mudah hilang terbawa angin, tetapi untai kata yang tercetak pada selembar kertas akan tetap ada, terbawa mengelana dari mata ke mata hingga usang lembarnya.
"Kau yakin tempat kerjamu kali ini tidak akan sama seperti kantor berita sebelumnya?"
Tanya itu membuat Dalgi terdiam beberapa momen. Namun, senyumnya lantas melengkung.
"Kuharap tidak. Stasiun penyiaran mereka adalah salah satu terbaik dan yang paling berpengaruh di Ibu Kotaㅡ" ucapannya kembali terhenti. Dalgi mengangkat bahu. Menahan untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi.
"Aku akan berkunjung ke panti pekan depan. Atau mungkin lebih cepat kalau semua urusannya berjalan lancar. Mm, sampai nanti, Eomma. Sampaikan salamku pada Appa."
297 likes
callme.not About her
.
Name Kwan Dalgi
Date of Birth 28 December 1993
Ethnicity Korean
Occupation journalist, volunteer
Height 166cm
Weight 43kg
Skin Tone Pale
Facial Shape Oval
Distinguish Feature Heterochromatic eyes
Eyes color Dark brown (right), blueish grey (left)
Personality Treat
MBTI type ENFP-T.
Extraverted. ———————.. —.—— 72%
Intuitive ...— ————————..—..— 60%
Feeling-....— ———————......——..78%
Prospecting —————....—————.54%
Turbulent—. ———————————...81%
.
Kwan Dalgi adalah tipe anak baik yang hidupnya cenderung lurus-lurus saja. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi dan mempercayai konsep "orang menuai apa yang mereka tanam". Karenanya, ia seringkali memilih untuk tidak mengambil keputusan yang berpotensi merugikan orang lain. Hal itu juga lah yang membuatnya meminimasi relasi dengan orang yang tak sejalan dengan prinsip hidupnya.
Kwan Dalgi adalah seseorang yang penuh spontanitas dan menyukai eksplorasi. Pembawaan ini membantu pekerjaannya di bidang jurnalistik sebab Dalgi tak akan ragu untuk melangkah ke area yang berbahaya untuk menyelami fakta. Dalgi juga merupakan seorang komunikator yang baik, lagi-lagi satu poin yang menguntungkan karirnya.
Di sisi lain, pribadinya yang relatif emosional membuat Dalgi seringkali bersitegang dengan relasinya. Suasana hatinya acap kali berubah dan biasanya sulit dibujuk jika sedang marah atau bersedih. Sama seperti suana hati, isi kepalanya pun bisa dengan mudah berganti haluan. Sang dara bisa berubah pikiran dan mengganti keputusannya hanya dalam hitungan menitㅡyang mana bisa jadi sangat merepotkan di beberapa kondisi.
Trivia
1. Sejak berusia 12 tahun, Dalgi yang awalnya menyukai buah stroberi mulai memunculkan reaksi alergi jika mengonsumsi buah ini.
2. Selain menyelami pekerjaan di bidang jurnalistik, Dalgi juga merupakan pekerja sukarelawan di Panti Wreda Hangyeongwon.
3. Salah satu hobi yang ditekuninya adalah baking.
4. Memiliki kelainan genetik heterokromia iridium.
5. Biasa mengenakan lensa kontak sewarna dengan mata kanannya hanya ketika berada di lingkungan pekerjaannya.
6. Memiliki peliharaan sepasang bichon frise bernama Reumi dan Gumi.

